Rabu, 06 Maret 2013

Cerpen Percintaan Islami


Cinta Karena Allah
(oleh : Sri Mulyani)

          Ku duduk termenung di teras rumah, kulihat sosok seorang pria yang lewat dengan menatapku tanpa henti. Entah apa yang ada di benak pria itu. Namun, saat dia menatapku, timbul rasa degdekan di hatiku. Ini kali pertama aku merasakan hal yang seperti ini. Aku pun langsung membuang tatapanku pada pria itu. Aku takut akan terjadi zina mata pada diriku.


          “Tuhan, ampuni hamba-Mu...!” ucapku dalam hati.
          Terpikir di benakku, apakah ini yang dinamakan cinta? Aku baru pertama kali merasakan hal yang seperti ini. Aku tak habis pikir, mengapa aku langsung jatuh hati pada pria yang belum aku kenal dan hanya aku lihat sepintas saja. Namun, aku tak ingin larut dalam perasaan yang tak pasti. Ku jalani hidupku seperti biasa.
          Beberapa hari kemudian, pria itu pun lewat dan menatapku lagi. Perasaan yang lalu muncul lagi. Tak lama setelah sering kali kami bertatapan sepintas. Di depan teras rumah terdapat sepucuk surat. Aku pun membuka dan membacanya, terlihat surat itu dari seorang pria yang bernama “Muhammad”. Di dalam isi surat itu bertuliskan bahwa,
          “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
          Wahai wanita idamanku. Aku adalah pria yang selama ini lewat dan menatapmu. Jujur sejak awal aku melihat diri mu, aku langsung jatuh hati karena kecantikan hati-Mu. Sosok wanita berjilbab dan taat pada agama sepertimu adalah wanita yang ku dambakan. Surat ini ku sampaikan padamu karena aku ingin kau tahu apa yang sebenarnya berada dalam benakku setiap melihatmu.
          Salam kenal dariku. Untukmu wanita pujaanku. Ku cinta kamu karena Allah.
          “Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
          “Tuhan, jika ku mencintai seseorang, cintakanlah aku pada orang yang melabuhkan cintanya pada-Mu”, ucapku dengan menutup surat dari pria itu.
          Aku pun membalas surat dari pria itu,
          “waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
          Salam kenal juga dariku, Aisyah. Aku jujur juga menykaimu, namun rasa sukaku kepadamu tak bisa melebihi rasa cintaku kepada Allah. Kurindukan sook pria yang taat dan patuh pada perintah Allah. Dan semoga cinta kita karena Allah.”
          “Aisyah”
          Akhirnya, setelah satu bulan kami mengenal pribadi masing-masing. Aku telah mengenalnya lebih dekat, begitupun dengan dia. Dia juga telah mengenalku lebih dekat. Perbedaan usia empat tahun, tak menjadi kendala bagi kami untuk saling mengingatkan tentang ajaran agama. Yang tua kepada yang muda. Begitupun aku yang lebih muda dari dia, selalu mengingatkannya untuk salat. Aku merasa bahagia dapat mengenal seorang pria yang memiliki iman dan rasa cinta yang besar kepada Allah. Di setiap tahajjud, ku berdoa kepada Allah “Tuhan, jika dia adalah pria yang kau kirim padaku untuk menjadi pendampingku, maka dekatkanlah kami dan jadikanlah cinta kami, cinta karena Engkau. Namun apabila dia bukan pria yang kau kirim untukku, maka jangan kau buat hati kami semakin dekat, namun jangan kau pisahkan tali silaturahmi diantara kami”.
          Waktu demi waktu telah kami lewati, aku pun tamat SMA. Aku akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Tandanya aku akan berpisah jarak yang jauh dengannya. Aku pun meminta maaf dan memberikannya kenang-kenangan berupa al-Quran. Dia pun juga memberikan aku kenang-kenangan berupa alat salat dan di dalamnya terdapat surat yang bertuliskan “Wanita idamanku, walaupun kita akan jauh, namun aku akan tetap menyayangimu. Kamu harus tetap jaga salat dan ibadahmu kepada Allah. Karena Allah akan membantu hamba-Nya yang taat”. Tibalah saatnya aku pergi. Aku pun berdoa,”Tuhan, jaga dia”.
          Sesampai di luar negeri, kami tetap masih berhubungan. Namun karena kesibukan dengan kuliah, kami jarang berkomunikasi. Mungkin sekitar 6 bulan kami tak berkomunikasi. Akupun merasa bahwa pasti dia telah menemukan wanita yang lain.
          “Tihan, jika dia telah mendapatkan wanita lain, aku rela. Asalkan dia bahagia dan tetap berada pada jalan-Mu”, ucapku dalam hati setetlah selesai salat magrib.
          Tak lama kemudian, handphoneku berdering pertanda sms dari seseorang. Tampak jelas pada layar handphoneku bertliskan nama “Muhammad”. Jantungku berdebar.
          “Assalamualaikum, wanita idamanku. Walau telah lama kita tak berjumpa, aku tetap menyayangimu. Dan aku yakin Tuhan pasti memberikan jalan yang terbaik bagi kita berdua”.
          Satu tahun setelah adanya sms itu, ada kabar dari sahabatku bahwa Muhammad telah berubah. Dia menjadi jarang salat dan selalu keluar malam dengan teman-temannya. Aku pun kaget dan perasaan tak menentu timbul pada diriku.
          “Tuhan, jika berita itu benar, maka sadarkanlah Muhammad”, ucapku dalam hati.
          Aku pun mencoba menghubunginya. Dan ternyata dia menjawab telponku. Aku menasihatinya dan dia pun tidak mendengarkan kata-kataku. Aku pun mengatakan, “Jika kamu tidak berubah maka azab Allah akan pedih. Sekarang aku tidak akan menghubungimu dan bukan berarti aku membencimu. Aku hanya ingin kamu menjadi pria yang taat pada ajaran agama seperti dahulu”.
          Aku mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri Muhammad sehingga dia berubah dari putih menjadi hitam. Aku mencoba menelpon teman dekatnya, dia pun tidak tau bahkan dia juga heran dengan apa yang terjadi pada Muhammad. Setiap pulang kuliah aku selalu mencari tau penyebab perubahan Muhammad. Aku memberanikan diri menelpon tantenya.
          “Assalamualaikum”,ucapku.
          “Waalaikumsalam, maaf dengan siapa?”,balas sang tante.
          “Saya Aisyah tante, teman Muhammad”, kataku dengan gugup.
          “Ada apa nak?,tanya tante
          “Maaf, aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Muhammad sehingga dia berubah?”,tanyaku dengan berani
          “Aku juga sedih nak dengan perubahan yang begitu drastis dari Muhammad. Semua itu bermula sejak ayahnya meninggal dunia. Dia mulai jarang salat, keluar malam, dan rata-rata teman bergaulnya anak-anak nakal. Dia telah jauh dari ajaran agama.”, jawab tante sambil menangis terseduh-seduh.
          “Sabar tante, aku yakin dengan doa dari kita semua pasti kita akan diberi jalan yang terbaik dan mata hati Muhammad akan dibukakan oleh Allah, makasih tante atas informasinya. Aku akan bantu doa dan berusaha menasihati Muhammad. Assalamalaikum” Ucapku pada tante.
          “Waalaikum salam, makasih nak.”
          Saat itu aku turut prihatin terhadap apa yang terjadi pada diri Muhammad. Aku menangis. “Tuhan, bukakanlah pintu hati Muhammad agar kembali ke jalan-Mu. Dan bantulah hamba-Mu ini mengingatkan Muhammad. Amin”,ucapku dalam tangis.
          Setiap hari aku selalu menelpon Muhammad untuk memberinya nasihat. Aku selalu berusaha menyadarkan dirinya. Namun dia masih belum bisa menerima apa yang menimpanya. Ia masih selalu ingat akan sosok ayahnya yang sangat ia sayangi. Dia malah membentakku. Aku memangis dan saat itu aku bertekad tidak akan menghubunginya lagi, walau sebenarnya di hati masih sangat sayang dan tak bisa jauh darinya. Aku mencintai seseorang yang cintanya besar kepada Allah. Dan aku yakin Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik bagi hamba-Nya yang senantiasa taat dan patuh pada-Nya.
          Aku menjalani hidupku tanpa ada lagi nama Muhammad. Namun ku juga selalu mendoakannya agar dia cepat berubah. Di kampus ada sosok pria yang mirip Muhammad. Pria itu mengingatkan ku akan sosok Muhammad yang dulu ku cinta. Perilakunya juga persis sama dengan Muhammad. Dia pun juga selalu memperhatikanku. Perasaan yang dulu muncul lagi. “Tuhan, ampuni hamba-Mu”, ucapku dalam hati. Walau begitu, tapi aku tidak ingin membagi hati lagi kepada siapapun karena aku masih mengharapkan Muhammad. Dan aku yakin Tuhan pasti mendengar doa hamba-Nya.
          Aku pun selesai kuliah dengan gelas Master. Orang tua dan kakakku bangga padaku. “Tuhan, terima kasih atas nikmat yang telah Kau berikan padaku dan keluargaku”, ucapku dalam hati seraya sujud syukur. Aku pun kembali ke kampung halaman. Di perjalanan ku berdoa semoga sesampaiku di sana keadaan telah jadi lebih baik dari yang dulu. Sekitar 5 jam perjalanan, aku pun sampai. Sungguh perubahan yang begitu drastis. Dulu tempat tinggalku hanyalah kampung biasa, kini menjadi kota besar.
          Tak lama kemudian, mungkin sekitar 3 minggu. Ku lihat sosok pria sedang berdiri di hadapanku. Dan pria itu sangat mirip dengan Muhammad. Ku lihat dia memakai baju berwarna hitam dan di tangannya ada sebatang rokok. Aku pun kaget dan air mataku pun menetes.”Tuhan, apakah dia Muhammad. Ku harap bukan”, ucapku dalam hati. Tiba-tiba pria itu pun juga menangis dan tak sengaja dia menjatuhkan rokok yang dipegangnya itu.
          “Aisyah, telah lama aku merindukanmu wanita pujaanku. Aku minta maaf atas apa yang terjadi selama ini”, kata pria itu.
          Aku pun yakin bahwa dia itu adalah Muhammad, pria yang ku tunggu selama ini. Aku pun tak bisa membendung air mataku yang jatuh bercucuran.
          “Muhammad, jika kamu benar-benar menyukaiku, ku harap kembalilah pada jalan Allah. Karena tidak seorang pun dapat tenang jika ia tidak mengingat Allah”, ucapku pada Muhammad.
          “aku begini karena ayahku meninggal, aku masih belum bisa menerimanya. Ayahku adalah sosok orang yang begitu berharga bagi diriku, tapi kenapa Tuhan mengambilnya secepat itu. Aisyah aku benar-benar tidak bisa menerima semua ini. Hanya kau yang dapat menolongku Aisyah”, ujar Muhammad.
          “Aku bukanlah Tuhan,  dan ayahmu meninggal itu sudah menjadi kehendak Yang Kuasa. Karena tidak ada seorangpun yang akan hidup kekal di dunia ini. Semua orang pasti akan mengalami yang nama mati. Jadi kamu harus sabar. Dan mohonlah ampun pada Allah. Bukankah kamu sendiri yang dulu selalu mengatakan kepadaku, bahwa Allah adalah tempat meminta dan segala urusan, Allah akan membantu kita”, ucapku dengan harapan dia tersentuh. Muhammad pun langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata padaku.
          Tak lama kemudian, handphoneku berdering, sms dari seseorang. Ku buka dan ku baca pesan itu.
          “Aisyah, kau adalah wanita sholehah. Dan aku tak salah memilihmu sebagai wanita yang ku sayang. Aku sadar bahwa selama ini aku telah salah jalan. Dan aku tidak yakin, apakah Allah masih mau menerima tobatku, sedangkan aku telah banyak dosa”.
          Aku pun membalas pesan itu,
          “Muhammad, allah itu Maha Pengampun. Siapapun hamba-Nya yang bersunggh-sungguh bertobat, maka Dia akan mengampuninya”.
          Aku bersyukur dan dalam tahajjudku , ku berdoa “Tuhan terima kasih kau telah membukakan pintu hati Muhammad.”.
          Tak lama setelah itu, Muhammad dan keluarganya datang ke rumah dan aku tak tau apa maksud kedatangannya yang secara mendadak itu. Aku pun memanggil orang tuaku. Dan ternyata dia datang untuk melamarku. Dan dia mengucapkan, “Aku mencintai Aisyah karena Allah dan aku pun bermaksud melamar dan menginginkan Aisyah untuk menjadi pendamping hidupku”. Aku menangis dan tidak sia-sia selama ini aku memperjuangkan cintaku. Aku semakin yakin bahwa Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi hamba-Nya yang sabar.
          Hari demi hari kita lewati bersama, sampai pada suatu hari aku merasa pusing, lemes, mual-mual, gak anak banget. Ku beri tahu suamiku tentang yang ku rasakan. Dia malah tersenyum dan sujud syukur.”Alhamdulillah, kamu hamil istriku. Kita akan punya anak yang akan menjadi anak sholeh”, ujar suamiku. Aku pun sangat senang dan aku langsung bersyukur pada Tuhan. Kami berdua langsung ke rumah orang tua untuk memberi tahu kabar gembira ini. Kami yakin mereka pasti sangat senang. Tak lama kemudian, kami sampai.
          Tok, tok, tok, bunyi pintu yang sedang diketok. Assalamualaikum!
          “Waalaikumsalam, masuk nak !” ,jawab ummiku.
          “Ummi, Aisyah hamil!”, ucap suamiku.
          “Alhamdulillah, kamu sudah memberi tahu ummi dan abbahmu nak?”,tanya ummi pada suamiku
          “Belum ummi, insya Allah sepulang dari sini, kami akan beri tahu mereka!”, jawab suamiku.
Aisyah dan suaminya berangkat ke rumah ibu dan ayah Muhammad. Dan mereka pun memberitahu keluarganya. Dan mereka sekeluarga sangat bahagia dengan kabar itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar